PASANG IKLAN

Tampilkan postingan dengan label Kumpulan Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kumpulan Puisi. Tampilkan semua postingan

Luka Hati Luka Diri


Sesa'at Ku terdiam dalam indah nya sang bayu
Ku termenung terluntas akan bayangan wajahmu
Ku tersontak tak kuasa membendung airmataku
Betapa aku melihat kepedihan hati mu

Rasa cinta mu yang begitu dalam
Kian menyiksa dalam lamunan
Sungguh aku tak kuasa untuk melihat mu terluka
Namun aku tau aku bukan lah yang dulu

Kini aku sudah mempunyai seseorang yang mampu mengisi Dan menghiasi hati hariku
Dengan tulus ikhlas aku telah melewati hariku
Kadang aku harus berpuraa pura tertawa,bahagia demi orang yang Ku cinta
Karena aku tak ingin dia melihat aku termurung

Kasih bukan aku tak mau meneri mu
Tapi kini hidup Dan jalan kita telah berbeda
Di hati sudah ada orang yang begitu menyanyangi aku
Aku tak mungkin berpaling dalam cinta yang se harus nya tak aku miliki

Maaf kan lah aku kasih
Hidup bukanlah untuk sebuah penyesalan
Namun bagaimana kita mensyukuri disetiap titik langkah ini
Jangan berkecil Dan merasa diri INI tiada orang yang peduli
Aku yakin suatu saat nganti mau akan mendapat kan yang mau cari

Semoga kau akan mendapatkan kebahagia'an
Bersama orang yang kau pilih
Hidup bergandengan tangan Tapa ada yang terlepas
Walau tangan ITU kadang sakit,,
Tersenyum lah kasih Ku
Aku disini selalu mendoakan yang terbaik untuk mu
Maaf kan aku aku lebih memilih ke kasih hariku
Satu untuk selama nya

BY SONIA VERONICHA ITU AG
16 FEBRUARI 2016
NGALAM PANDANREJO WAGIR

Aku Semakin Bertanya - Tanya


Aku barangkali hanyalah sehelai daun di antara rimbunnya hidup yang kau punya.
Kau punya ranting dan dahan, serta batang yang kuat.

Sementara aku semakin hari semakin menguning.
Pelan-pelan mulai di goyah oleh angin.
Kau bisa dengan mudah melepas ku.

Namun, jatuh dan berterbangan tanpa arah bukanlah hal yang menyenangkan.
Aku melayang-layang tanpa tujuan.
Jatuh ke tanah.
Lalu di paksa menyerah.
Di paksa ikhlas akan hal-hal yang tak ingin ku lepas.

Aku ingin bertanya.
Pada bagian ini apakah yang menyenangkan dari jatuh cinta?

Boy Candra

Kehilangan Abadi


Ada kehilangan abadi yang aku kenal pada dirimu
bahkan sebelum aku mampu memilikimu.
Pada sebuah film yang sama
Aku di buat terpukau dan terdiam akan sebuah hebatnya cerita dan kerapuhan karakter.
Aku tak mampu membedakan antara diriku dengan sang tokoh pada sebuah film.

Aku seolah-olah berada di dalam dunia sinema di mana sutradara membuatku jatuh cinta, lalu tak lama ia membuatku patah.

Aku seperti sang karakter yang sangat ingin mencurangi takdir, tetapi sang sutradara membuatku menyerah dan menjatuhkan diri pada ambang selasar pilu.

Kemudian, kehilangan abadi menciptakan sebuah kesunyian paling tulus.
Sengaja meninggalkan kesepian untuk memeluk ragaku.

Sang karakter dalam film adalah seorang pelukis.
Sebelum film berakhir, ia mengucapkan pesan terakhir.
Katanya jika kehilangan digambarkan dengan sebuah warna--maka ia akan memiliki warna paling gelap daripada hitam.

Film berakhir.
Alunan melankolis milik Chopin mengalun merdu menyentil telingaku.
Nelangsa merasuki ragaku perlahan.
Ke mana saja aku selama ini? Aku baru saja menyadari--bahwa engkaulah kehilangan abadi yang akan selalu aku cintai.

--Mega
#BlueVincent

WANITA YANG BERHARAP TIDAK DILIHAT


Gamis hitam yang membalut tubuhmu,
Tampa hiasan apapun, begitu menegaskan
kesederhanaan sosokmu....
Beberapa pasang mata melihatmu,
tetapi kau acuhkan itu.

Kau justru tertunduk malu, meski pandangan
mereka takkan mampu menembus tiap detail lekukmu.
Kau terus berjalan, tampa peduli dengan apa yang ada dibenak mereka tentang

Kau justru tertunduk malu, meski pandangan mereka takkan mampu menembus tiap detail lekukmu.
Terus berjalan, tanpa peduli dengan apa yang ada di benak mereka tentangmu.

Kau malu...
Malu, karena kau tak ingin ditatap oleh mereka yang tak halal bagimu.
Sebegitukah kau menjaga dirimu?

Tak satupun fotomu dapat ditemukan, tak sepintas pesonamu kau tunjukkan.
Bahkan kau tak peduli jikalau tak banyak orang yang dapat mengenali siapa dirimu.
Rasa malumu itu mungkin telah berhasil membuat bidadari surga cemburu.

Lalu, bagaimana denganku?
Dapatkah aku menjadi sepertimu?
Sejenak kekhawatiran menyelimuti hati dan juga pikiranku.
Aku takut imanku goyah sewaktu-waktu. Takut...akan lunturnya semangat istiqomahku.

Walau begitu...
Aku mengagumimu, mengagumi wanita yang seperti itu.
Wanita yang 'tidak ingin dilihat' dan begitu memelihara rasa malu.
Untuk Dia dan kekasih halalmu, kau rela melakukan semua itu.
Terimakasih wanita "pemalu" yang telah menjadi inspirasiku.
Semoga aku dapat menyamai langkahmu...

By
Lia

KAU MENCINTAINYA DENGAN MUBAZIR


Kau mencintainya dengan mubazir
mengulur-ulur waktu untuk bahagia
bertahan bertahun-tahun dalam luka
perasaan setangguh apa yang kau punya?

Kau mencintainya dengan mubazir
menunda-nunda melanjutkan hidup
bertahan terus dalam rasa kalut
hati siapa yang sedang kau jaga?

Kau mencintainya dengan mubazir
enggan berdamai dengan diri sendiri
memaksakan diri memiliki hingga nanti
padahal jelas sudah dia tak lagi bergairah

mau sampai mengurung diri dalam semu
menanam begitu banyak sepi di dadamu
kau tahu yang kau pertahankan itu tak ada
kau hanya sedang menabur derai hujan luka

Kau mencintainya dengan mubazir
sepanjang tahun tak berganti rasa
sebanyak langkah yang kau dapatkan duka
namun kau betah tenggelam berlama-lama

source : Boy candra

Memeluk Kehilangan


Perlahan tapi pasti aku aku mulai menerima semua yang telah terjadi
Sekarang aku telah mengikhlaskan ke pergian mu
Bahwa dunia ku kini isinya bukan lagi segala tentang mu

Jujur sebenarnya sulit bagiku menerima semua ini
Baru sekali aku merasakan indahnya cinta
namun dengan sekejap kau hancurkan mimpi-mimpi ku dengan begitu tega

Pernah suatu waktu aku protes pada tuhan " Kenapa semua ini engkau hadirkan padaku? " Tapi bukankah dengan aku yang seperti itu sama saja menentangnya?

Setelah pikiran warasaku kembali bekerja
Aku teringat bahwa yang baik akan di sandingkan dengan yang baik pula
Bukankah jodoh itu cerminan hati
Bukan berarti aku tidak baik,
hanya saja aku lebih baik bila mana kita tidak bersama

Bukankah rencana tuhan itu lebih sempurna

Aku Percaya


Bermainlah ke mana pun kau mau
Pergi dan singgahlah kebanyak hati
Bebasakan lah ke mana kau menginginkan nya
Terserah

Dan aku selalu percaya
Jika tuhan menulis namamu di penghujung ceritaku
Kau akan tetap kembali juga

Jika bukan kamu
aku juga percaya bahwa akan ada kisah yang lebih baik

Apakah Kita Akan Bertemu


Aku masih belum tidur meskipun tubuhku lelah dihabisi gerakan Yoga malam tadi. Dan, aku masih di depan laptopku, mendengarkan suara air conditioner yang makin lama membuat kamarku makin sunyi. Hidupku semakin sunyi, apalagi semenjak kamu pergi.

Mataku masih menatap layar laptop sambil terus memperhatikan barisan abjad yang harus aku koreksi ulang. Buku kedelapanku, Sama Dengan Cinta, segera terbit, buku yang aku ceritakan padamu, yang dengan bangga kausambut dengan tepuk tangan riuh. Mas, betapa aku rindu candaanmu, betapa aku rindu hangatnya perhatianmu, dan betapa aku kedinginan menantimu pulang meskipun hujan yang turun tidak akan membuatmu segera pulang ke rumahmu-- ke rumah kita.

Aku sedang membaca bagian "Pemuja Rahasia" di buku kedelapanku. Seketika, aku sedang memposisikan diriku yang memujamu dari ujung kepala sampai ujung kaki. Kamulah gambaran pria sempurna yang aku impikan. Manis, humoris, kulit eksotis, memesona, pandai, gondrong, mendhok, sangat Jawa sekali. Singkatnya, aku tidak bisa menolak untuk tidak mencintaimu. Kamulah jawaban dari semua doaku. Aku mengira kamulah yang akan tetap tinggal, hingga setiap doaku selalu terselip namamu, hingga setiap jantungku mendenyutkan namamu. Namun, nyatanya? Kamu pergi begitu saja, menganggapku sama seperti perempuan lainnya, memposisikan aku sebagai pemuja, bukan pencinta. Padahal, kalau boleh sedikit berbisik di telingamu, aku ingin mengatakan bahwa aku bukan sekadar fansmu, aku penggemarmu nomor satu, yang dengan senang hati; akan berjanji membahagiakanmu-- jika suatu hari kamu milikku nanti.

Kepergianmu yang tiba-tiba adalah kiamat kecil bagiku.
Tahukah kamu rasanya menjadi seorang yang setiap hari menatap ponselnya hanya untuk menunggu chat-mu?

Tahukah kamu rasanya jadi seseorang yang diam-diam memperhatikan seluruh sosial mediamu hanya untuk mengobati perih dan sakitnya rindu?

Tahukah kamu betapa menderitanya jadi seorang yang hanya bisa berprasangka, hanya bisa mengira, hanya bisa menerka bagaimana perasaanmu padaku selama ini?

Tahukah kamu begitu tersiksanya hidup menjadi orang yang selalu bertanya-tanya, ke sana ke mari, mencarimu ke mana-mana, sementara kamu melenggang seenaknya seakan tidak terjadi apa-apa di antara kita?

Tahukah kamu perihnya menahan diri untuk tidak menghubungimu lebih dahulu karena aku begitu tahu diri bahwa kita tidak pernah ada dalam status dan kejelasan?

Tahukah kamu lelahnya menjadi orang yang terus berharap, terus berkata dalam hati, begitu percaya bahwa suatu hari kamu akan kembali?

"Dia pasti chat aku, kok. Satu hari lagi. Dua hari lagi. Satu minggu lagi. Dua minggu lagi.
Tiga minggu lagi. Satu bulan." Dan, aku masih menghitung hari, menunggu kamu pulang, menunggu ingatanmu kembali padaku. Tahukah kamu betapa tersiksanya aku ketika kamu tidak memberi kabarmu, ketika kamu tidak menyapaku, ketika tak ada lagi percakapan di antara kita, dan ketika kamu tiba-tiba menghempaskanku ke dasar daratan, ketika kita sedang asik-asiknya terbang bersama? Katakan padaku, bahwa aku terlalu berlebihan, aku terlalu berdrama, aku terlalu membawa perasaan. Aku tidak peduli apa kata orang, mereka tidak pernah paham betapa dalamnya perasaanku, seperti kamu yang tidak pernah mengerti betapa aku mencintaimu.

Aku merindukan caramu memperlakukanku seperti perempuan Sunda, memanggilku dengan panggilan "Teteh", padahal kamu jelas tahu-- rumah simbahku dan rumah ayahku yang ada di Prawirotaman, Jogja itu. Aku rindu semua pertanyaan yang kamu lontarkan padaku di tengah-tengah kesibukanmu. Aku rindu caramu membalas pesanku dengan tergesa-gesa, lalu meninggalkanku lagi untuk beberapa jam, lalu menyapaku setelah pekerjaanmu selesai. Betapa aku rindu menit-menit singkat yang aku lewati, meskipun aku harus melewati belasan jam dalam sehari, hanya untuk enam puluh menit berharga bersamamu.

Mungkin, kamu selalu bertanya, mengapa aku bisa dengan mudah jatuh cinta padamu? Kalau aku bercerita panjang lebar, tentu ceritaku akan jadi buku kesembilanku. Dengarlah, duduklah di hadapanku, dan tatap mataku dalam-dalam. Aku sudah memperhatikanmu, bertahun-tahun, bahkan sebelum kita saling mengenal, bahkan sebelum insiden kamu salah mengirim chat, bahkan sebelum kita begitu dekat. Aku sudah menjadi pemuja rahasiamu, bahkan sebelum kita saling menyapa. Aku sudah mencintaimu jauh-jauh hari, meskipun aku tidak pernah tahu siapa dirimu, bagaimana keseharianmu, siapa saja kekasihmu, siapa saja gebetanmu. Bagiku, semua itu tak penting. Aku mencintaimu. Mencintaimu. Mencintaimu. Dan, akan terus begitu. Meskipun kamu, sekali lagi, tidak akan pernah tahu.

Aku masih menanti, suatu hari kamu akan memperlakukanku sehangat kemarin. Dan kita tertawa, bercanda, memeluk awan, meraih bintang, menari bahagia di permukaan Saturnus. Aku masih menunggu, hari-hari saat kamu kembali. Dan aku bisa rasakan hangatnya pelukmu yang dulu pernah menjadi mimpi kecilku, bisa aku rasakan desah napasmu ketika kamu berbisik di telingaku, bisa aku rasakan denyut jantungmu ketika peluk kita begitu erat hingga sulit dilepaskan, bisa aku dengar suara mendhok-mu yang menyanyikan lagu JKT48, bisa aku rasakan rapatnya jemarimu ketika memegang jemariku, dan aku bersumpah demi apapun tidak akan melepaskanmu.

Aku masih menanti, pertemuan kita yang segera terjadi. Beberapa hari lagi, aku akan ke kotamu, ke kota kita, Jogjakarta. Aku dan penerbitku menyapa para sahabat pembaca di Jogjakarta, Solo, dan Semarang; dalam acara Meet And Greet bersama Dwitasari. Sungguh, aku tidak berharap lebih. Seandainya bisa bertemu denganmu, aku hanya ingin menatap sinar matamu, mata yang entah mengapa selalu membuatku percaya, masih ada cinta di sana.

Sungguh, aku tidak berharap lebih. Keinginanku sederhana. Kita duduk berdua saja, di Alun-alun Selatan Jogjakarta. Tidak ada percakapan yang terjadi, hanya hati kita yang saling menghampiri. Kamu menggenggam jemariku, aku menggenggam jemarimu. Kita menghela napas sesaat, masih tak percaya bahwa pada akhirnya kita sampai di titik ini. Dulu, aku hanya bisa menatap chat-mu, namun pada akhirnya aku bisa benar-benar menatapmu. Lalu, kamu memandangiku, aku memandangimu. Kamu mendekat. Semakin dekat. Bisa aku rasakan aroma tubuhmu. Bisa aku rasakan rambut gondrongmu menyentuh wajahku. Kita.....

Beranikah? Aku menantangmu.

yang memuja kepolosanmu.

Celoteh malam


Duhai sang pengelana malam...
Tak usah Kau suguhkan...
Mantera mantera penggugah jiwa.....
Sebab disekelumit kisah asmara.....
Syair syairmu perih dan berdarah...
Merobek  dan ada yg tersisa dalam bait seribu makna ...
Celoteh malam

Karya : Inda

Tentang Pesan Untuk Laki Laki


Tentang PESAN  UNTUK LAKI LAKI

Perempuan bukan cuma di tiduri
Perempuan bukan bahan perkosaan
Perempuan bukan buda Nafsu

TAPI,,,.......

Perempuan untuk dihargai
Perempuan untuk di hormati
Perempuan untuk disetarakan
Perempuan untuk disejajarkan.....

KARENA...!!

Dari Rahim perempuan lah kita lahir....
Dari Asi perempuan Otak kita berkembang ....
Tak ada perempuan
kita tak bisa berkembang biak......

Karya : Inda NS

PINTU HATI TAK SEPERTI BENDUNGAN


Pintu hati tak seperti bendungan,
Yang kapan pun aman di buka tutup tidak merembas.
Dalam urusan perasaan, sekali pintu hati di biarkan terbuka
Maka akan susah untuk menutupnya kembali.
Tetap merembes bahkan lubang bocornya bertambah dan jebol di mana mana.
Membahayakan seluruh bendungan

Maka jika kita belum siap
Belum niat serius
Maka jangan suka membuka pintu hati
Dan tentu saja jangan mau di gombalin
Oleh orang yang terbiasa membuka pintu hatinya untuk yang lain
Pintu bendungan dunia nyata saja hanya dalam kondisi tetentu di buka tutupnya.

Sama halnya Saat kita tertawa,
hanya kitalah yang tahu persis apakah tawa itu bahagia atau tidak.
Boleh jadi kita sedang tertawa dalam seluruh kesedihan atau penuh kepura puraan
Orang lain hanya melihat wajah.
Tak bisa melihat hati

TERUSKAN atau TINGGALKAN


Bergolak hati merasa gelisah
Sebab diri ini menyadari,
telah berada di arah yang salah
Tetapi mengapa begitu tidak mudah?
Untuk meninggalkan yang terlihat indah

Mungkin aku yang sudah terlalu jauh
Menenggelamkan diri pada bahagia yang semu
Menutup mata atas cahaya-Mu
Menutup telinga atas seruan-Mu

Kini, aku ingin beranjak
Bergerak melawan ombak
Menyambut uluran tangan yang selama ini kutolak

Masihkah ada waktu
Untukku kembali pada-Mu?

KEJAR APA YANG HARUS DI KEJAR
PERTAHANKAN APA YANG HARUS DI PERTAHANKAN
TINGGALKAN APA YANG HARUS DI TINGGALKAN

Nada itu tak seirama lagi


" Nada itu tak seirama lagi "

Semua terdiam dalam hening..
Mematung tanpa suara.
Dan hanya terpaku dalam diam yang panjang.
Saat nada tak seirama lagi.
Maka keindahan suara tak lagi bisa didengar merdu.

Semua kata indah seolah sirna seketika...
Tak ada lagi saling menatap.
Sebab senyum itu sudah tak lagi menghiasi bibir.
Raut wajah kekecewaan terpancar dengan jelasnya.
Karna semua rasa sudahlah saling membeku.

Semua terdiam dalam sunyi tanpa suara...
Helaan nafas berat terlihat dari kedua sisi.
Menangis....
Tidaklah akan mengembalikan semua nada agar seirama kembali.
Sebab tangisan hanya akan membuat kita semakin terpuruk dan tenggelam dalam duka.

Jika nada sudahlah tak seirama lagi...
Maka lebih baik diamlah sejenak.
Bersihkan hati...
Dan buanglah segala pikiran yang tak baik tentangnya.
Lalu katakan pada hati kecil mu..
Bahwa dia pernah seirama dalam nada dan rasa.
Dan dia pun pernah menjadi syair disetiap rasa yang ada.

Lalu...
Penjamkanlah kedua matamu...
Dan bayangkanlah saat nada - nada itu pernah seirama dengan mu.
Meski semuanya tidaklah akan seirama dan senada lagi.
Namun paling tidak ada kenangan indah saat masih senada dan seirama denganya.

Goresan ku...
Hanyalah goresan biasa

Jangan lupa Like and Share ke teman kamu

Seperti Pungguk Yang Merindukan Bulan


Ku sederhanakan kebahagiaanku,,!!
dengan hanya terus,Menyayangimu,,,,
Dan ,Aku..,akan membiarkan semesta dengan maunya,,
Entah..,itu akan mendekatkan mu padaku,,atau malah,,membuatmu enyah,,!!
karena ,,kusadari..
Dirimu..,,terlalu indah,,,
yang mampu,,hanya ku Bayang,,
Namun ,,..tidak untuk Menggenggam !!

Source : _May_Be_

Aku Kangen


Aku Kangen

Setiap malam tidurku yang panjang
Dirimu menjelma sebagai akar dari saraf
Menjamah seluruh isi kepalaku
Merasuk kedalam pikiran yang kelabu

Setiap pagi bangunku yang singkat
Dirimu menjelma sebagai kicauan burung
Menyapa manis dibawah rindang pohon
Yang memaki sanubari akan kamu

Tak kah kau rasakan bahwa aku kangen
Melihat paras wajahmu juga raut senyummu
Karena raga dan hati saling terpisah
Dan aku tak bisa memusnahkan jarak yang berkuasa

Kamu merasakan apa yg kurasa atau tidak
Entahlah aku tak tahu


Sumber : My Ss

Kunanti Uuran Asmara


Dini hari
Menjelang pagi
Lihatlah bintang utara
Cemerlang terindah

Engkaulah dirinya
Gemilang sejuta pesona
Menawan hati
Merenggut jiwa -jiwa kasih

Menyambut cempaka bermekaran
Embun sejuk berkilauan
membiaskan sinaran  cinta
Hangat dalam ketentraman

Oh maha jelita
Nuan dara gemintang
Kunanti uluran asmara
Sepanjang mimpi yang tenang

Lihatlah aku ...
Penuh keresahan rindu
Selayang pandang hanya wajahmu
Sepatah terkata cuma namamu

Selamat Malam Rindu


Malamku tiada cahaya bintang dan rembulan sebagai penghiasnya saja
Kecantikanmu hal yang biasa
Gelapnya menambah angan untuk berbenah tempat tidur mau bobok aku susah
Tiupan angin malam menambah sejuknya rasa
Yang menyatu menuju pejamnya mataku
Selamat malam rindu...mimpikan aku di tidurmu saja.kalok bisa bacalah doa itu pun cukup...

Menghapus jejak - jejak rindu

Ku coba...
Tuk menyingkirkan semua rasa yang ada.
Dan mencoba untuk tidak berharap banyak dari rasa yang singgah dihati ini.

Aku...
Tak mau terluka lagi.
Dan aku tak mau lagi hati ini merasakan perih yang dalam.
Aku....
Hanya ingin sebuah kedamaian meski dalam kesendirian diri dan hati.

Kuhapus...
Jejak - jejak rindu yang pernah ada.
Kututup rapat - rapat hati ini.
Tak akan kubiarkan sebuah cinta semu hadir kembali mengisi ruang hati ku.

Kan kubiarkan...
Hati ku kosong.
Kan kubiarkan hati ku sepi kembali.

Dan hanya...
Syiar - syair ku yang akan terus mengalir.
Tuk mewakili lisan ku yang diam.

Biarkan...
Hanya jari - jemari ku..
Yang terus menari dalam diam ku.


Goresan kecil ku..
Diantara hati yang mulai membeku kembali

Senja Berganti Malam


Tersenyum sendiri ketika senja kian berlabuh..
Ku sambut benih rindumu
Lalu kusiram dengan kebahagian...bersamamu
Di Iringi Suara debuaran Sang ombak menghayutkan suasana kebersamaan kita

Kini senja berganti malam..
kau relakan cintamu hilang di ujung senja...
Di ujung senja aku terpaku sambil merenung
Di tengah hari hari ku yang hilang...
Adanya rindu tak terpadu
Tapi cinta kini kian hilang di telan malam yang sepi

Salalu Ku tunggu di ujung senja tiada cerita dan tiada senyum mu..
kini di ujung senja tiada lagi cinta dan tiada lagi senyummu.....
Di ujung enja ku doakan kau bahagia dan terus aku menikmati cintamu...




Dia Bukanlah Cinta Bukan Pula Milikmu


Kenapa kamu tidak bisa melupakannya?
Sebegitu pentingkah dia untukmu?
Bagaimana bisa kamu menyerahkan hatimu pada dia yang bukan mahram mu?

Tahukah kamu bahwa hati dan perassan mu itu berharga? 
Lalu bagaimana mungkin kamu memberikannya pada dia yang belum tentu jodohmu?
Bagaimana mungkin kamu menghabiskan banyak waktu untuk memikirkannya?
padahal memikirkan tentang nasibmu di akhirat kelak jauh lebih penting dari itu

Apa yang kau dapatkan dari sering dan masih memikirkannya?
Apakah kamu mendapat ketenangan seperti yang diberikan Allah padamu?
  • Tidak bukan?Apakah kamu mendapatkan rezeki seperti yang Allah selalu berikan padamu?
  • Bukankah itu juga tidak?Lalu.. apa yang membuatmu belum melupakannya?
Ini bukanlah cinta..
Karena cinta yang sesungguhnya hanya ada setelah pernikahan..
Ini juga bukan tentang "tidak bisa" melainkan "tidak mau"
Kamu bisa melupakannya hanya saja kamu tidak bersungguh-sungguh..

Dia bukanlah milikmu
Dia belum tentu jodohmu
Lalu kenapa kau menyia-nyiakan waktumu untuk mengingatnya?
Bagaimana bisa kamu lebih memikirkannya dibanding Allah dan Rasulullah?
Padahal Allah selalu ada bersamamu
Padahal Rasulullah menyayangimu bahkan sebelum ia melihatmu..

Ukhti.. akhi..
Berhentilah bersedih karenanya
Niatkan dalam hatimu untuk melupakannnya
Lakukan hal positif yang bisa membuatmu lupa untuk memikirkannya
Lakukan hal bermanfaat
Yang membuatmu lupa tentang perasaanmu padanya.

Sumber : Moslem Story

Baca Juga Artikel Lainya