PASANG IKLAN

Tampilkan postingan dengan label Puisi Rindu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi Rindu. Tampilkan semua postingan

Aku Semakin Bertanya - Tanya


Aku barangkali hanyalah sehelai daun di antara rimbunnya hidup yang kau punya.
Kau punya ranting dan dahan, serta batang yang kuat.

Sementara aku semakin hari semakin menguning.
Pelan-pelan mulai di goyah oleh angin.
Kau bisa dengan mudah melepas ku.

Namun, jatuh dan berterbangan tanpa arah bukanlah hal yang menyenangkan.
Aku melayang-layang tanpa tujuan.
Jatuh ke tanah.
Lalu di paksa menyerah.
Di paksa ikhlas akan hal-hal yang tak ingin ku lepas.

Aku ingin bertanya.
Pada bagian ini apakah yang menyenangkan dari jatuh cinta?

Boy Candra

Kehilangan Abadi


Ada kehilangan abadi yang aku kenal pada dirimu
bahkan sebelum aku mampu memilikimu.
Pada sebuah film yang sama
Aku di buat terpukau dan terdiam akan sebuah hebatnya cerita dan kerapuhan karakter.
Aku tak mampu membedakan antara diriku dengan sang tokoh pada sebuah film.

Aku seolah-olah berada di dalam dunia sinema di mana sutradara membuatku jatuh cinta, lalu tak lama ia membuatku patah.

Aku seperti sang karakter yang sangat ingin mencurangi takdir, tetapi sang sutradara membuatku menyerah dan menjatuhkan diri pada ambang selasar pilu.

Kemudian, kehilangan abadi menciptakan sebuah kesunyian paling tulus.
Sengaja meninggalkan kesepian untuk memeluk ragaku.

Sang karakter dalam film adalah seorang pelukis.
Sebelum film berakhir, ia mengucapkan pesan terakhir.
Katanya jika kehilangan digambarkan dengan sebuah warna--maka ia akan memiliki warna paling gelap daripada hitam.

Film berakhir.
Alunan melankolis milik Chopin mengalun merdu menyentil telingaku.
Nelangsa merasuki ragaku perlahan.
Ke mana saja aku selama ini? Aku baru saja menyadari--bahwa engkaulah kehilangan abadi yang akan selalu aku cintai.

--Mega
#BlueVincent

TAWA DUKA NASIBMU


Kaki- kaki kecilmu terus berlari
Bibir-bibir mungil mu seakan menari riang n penuh canda Temani hari...
Di iringi sengatan mentari
Di perempatan jalan ini
Di sudut terminal kota ini Kau terus berlari mengejar hari Demi sesuap nasi Menggapai mimpi....

Adik kecilku....
Apa yg sebenarnya kau cari..!?
Aku tak tahu dan takkan mengerti
Tapi satu yg pasti Tertutup sudah lara hidupmu saat kau berlari-lari
Adik kecilku....
Andai kau lihat n sadari Banyak hati yg menangis Beribu perasaan yg teriris akan nasibmu yg tak tergubris....


AKLM 2012 sudut terminal alas kala itu
By
Lia

Apakah Kita Akan Bertemu


Aku masih belum tidur meskipun tubuhku lelah dihabisi gerakan Yoga malam tadi. Dan, aku masih di depan laptopku, mendengarkan suara air conditioner yang makin lama membuat kamarku makin sunyi. Hidupku semakin sunyi, apalagi semenjak kamu pergi.

Mataku masih menatap layar laptop sambil terus memperhatikan barisan abjad yang harus aku koreksi ulang. Buku kedelapanku, Sama Dengan Cinta, segera terbit, buku yang aku ceritakan padamu, yang dengan bangga kausambut dengan tepuk tangan riuh. Mas, betapa aku rindu candaanmu, betapa aku rindu hangatnya perhatianmu, dan betapa aku kedinginan menantimu pulang meskipun hujan yang turun tidak akan membuatmu segera pulang ke rumahmu-- ke rumah kita.

Aku sedang membaca bagian "Pemuja Rahasia" di buku kedelapanku. Seketika, aku sedang memposisikan diriku yang memujamu dari ujung kepala sampai ujung kaki. Kamulah gambaran pria sempurna yang aku impikan. Manis, humoris, kulit eksotis, memesona, pandai, gondrong, mendhok, sangat Jawa sekali. Singkatnya, aku tidak bisa menolak untuk tidak mencintaimu. Kamulah jawaban dari semua doaku. Aku mengira kamulah yang akan tetap tinggal, hingga setiap doaku selalu terselip namamu, hingga setiap jantungku mendenyutkan namamu. Namun, nyatanya? Kamu pergi begitu saja, menganggapku sama seperti perempuan lainnya, memposisikan aku sebagai pemuja, bukan pencinta. Padahal, kalau boleh sedikit berbisik di telingamu, aku ingin mengatakan bahwa aku bukan sekadar fansmu, aku penggemarmu nomor satu, yang dengan senang hati; akan berjanji membahagiakanmu-- jika suatu hari kamu milikku nanti.

Kepergianmu yang tiba-tiba adalah kiamat kecil bagiku.
Tahukah kamu rasanya menjadi seorang yang setiap hari menatap ponselnya hanya untuk menunggu chat-mu?

Tahukah kamu rasanya jadi seseorang yang diam-diam memperhatikan seluruh sosial mediamu hanya untuk mengobati perih dan sakitnya rindu?

Tahukah kamu betapa menderitanya jadi seorang yang hanya bisa berprasangka, hanya bisa mengira, hanya bisa menerka bagaimana perasaanmu padaku selama ini?

Tahukah kamu begitu tersiksanya hidup menjadi orang yang selalu bertanya-tanya, ke sana ke mari, mencarimu ke mana-mana, sementara kamu melenggang seenaknya seakan tidak terjadi apa-apa di antara kita?

Tahukah kamu perihnya menahan diri untuk tidak menghubungimu lebih dahulu karena aku begitu tahu diri bahwa kita tidak pernah ada dalam status dan kejelasan?

Tahukah kamu lelahnya menjadi orang yang terus berharap, terus berkata dalam hati, begitu percaya bahwa suatu hari kamu akan kembali?

"Dia pasti chat aku, kok. Satu hari lagi. Dua hari lagi. Satu minggu lagi. Dua minggu lagi.
Tiga minggu lagi. Satu bulan." Dan, aku masih menghitung hari, menunggu kamu pulang, menunggu ingatanmu kembali padaku. Tahukah kamu betapa tersiksanya aku ketika kamu tidak memberi kabarmu, ketika kamu tidak menyapaku, ketika tak ada lagi percakapan di antara kita, dan ketika kamu tiba-tiba menghempaskanku ke dasar daratan, ketika kita sedang asik-asiknya terbang bersama? Katakan padaku, bahwa aku terlalu berlebihan, aku terlalu berdrama, aku terlalu membawa perasaan. Aku tidak peduli apa kata orang, mereka tidak pernah paham betapa dalamnya perasaanku, seperti kamu yang tidak pernah mengerti betapa aku mencintaimu.

Aku merindukan caramu memperlakukanku seperti perempuan Sunda, memanggilku dengan panggilan "Teteh", padahal kamu jelas tahu-- rumah simbahku dan rumah ayahku yang ada di Prawirotaman, Jogja itu. Aku rindu semua pertanyaan yang kamu lontarkan padaku di tengah-tengah kesibukanmu. Aku rindu caramu membalas pesanku dengan tergesa-gesa, lalu meninggalkanku lagi untuk beberapa jam, lalu menyapaku setelah pekerjaanmu selesai. Betapa aku rindu menit-menit singkat yang aku lewati, meskipun aku harus melewati belasan jam dalam sehari, hanya untuk enam puluh menit berharga bersamamu.

Mungkin, kamu selalu bertanya, mengapa aku bisa dengan mudah jatuh cinta padamu? Kalau aku bercerita panjang lebar, tentu ceritaku akan jadi buku kesembilanku. Dengarlah, duduklah di hadapanku, dan tatap mataku dalam-dalam. Aku sudah memperhatikanmu, bertahun-tahun, bahkan sebelum kita saling mengenal, bahkan sebelum insiden kamu salah mengirim chat, bahkan sebelum kita begitu dekat. Aku sudah menjadi pemuja rahasiamu, bahkan sebelum kita saling menyapa. Aku sudah mencintaimu jauh-jauh hari, meskipun aku tidak pernah tahu siapa dirimu, bagaimana keseharianmu, siapa saja kekasihmu, siapa saja gebetanmu. Bagiku, semua itu tak penting. Aku mencintaimu. Mencintaimu. Mencintaimu. Dan, akan terus begitu. Meskipun kamu, sekali lagi, tidak akan pernah tahu.

Aku masih menanti, suatu hari kamu akan memperlakukanku sehangat kemarin. Dan kita tertawa, bercanda, memeluk awan, meraih bintang, menari bahagia di permukaan Saturnus. Aku masih menunggu, hari-hari saat kamu kembali. Dan aku bisa rasakan hangatnya pelukmu yang dulu pernah menjadi mimpi kecilku, bisa aku rasakan desah napasmu ketika kamu berbisik di telingaku, bisa aku rasakan denyut jantungmu ketika peluk kita begitu erat hingga sulit dilepaskan, bisa aku dengar suara mendhok-mu yang menyanyikan lagu JKT48, bisa aku rasakan rapatnya jemarimu ketika memegang jemariku, dan aku bersumpah demi apapun tidak akan melepaskanmu.

Aku masih menanti, pertemuan kita yang segera terjadi. Beberapa hari lagi, aku akan ke kotamu, ke kota kita, Jogjakarta. Aku dan penerbitku menyapa para sahabat pembaca di Jogjakarta, Solo, dan Semarang; dalam acara Meet And Greet bersama Dwitasari. Sungguh, aku tidak berharap lebih. Seandainya bisa bertemu denganmu, aku hanya ingin menatap sinar matamu, mata yang entah mengapa selalu membuatku percaya, masih ada cinta di sana.

Sungguh, aku tidak berharap lebih. Keinginanku sederhana. Kita duduk berdua saja, di Alun-alun Selatan Jogjakarta. Tidak ada percakapan yang terjadi, hanya hati kita yang saling menghampiri. Kamu menggenggam jemariku, aku menggenggam jemarimu. Kita menghela napas sesaat, masih tak percaya bahwa pada akhirnya kita sampai di titik ini. Dulu, aku hanya bisa menatap chat-mu, namun pada akhirnya aku bisa benar-benar menatapmu. Lalu, kamu memandangiku, aku memandangimu. Kamu mendekat. Semakin dekat. Bisa aku rasakan aroma tubuhmu. Bisa aku rasakan rambut gondrongmu menyentuh wajahku. Kita.....

Beranikah? Aku menantangmu.

yang memuja kepolosanmu.

Kita takut saling kehilangan meskipun tak ada ikatan yang lebih

janjimu palsu

Begini saja
Tak saling mengungkapkan
Saling mengerti satu sama lain
Saling bertukar kabar

Mungkin diantara kita berdua
Memang sudah tau
Kita memiliki rasa
Kita takut saling kehilangan meskipun tak ada ikatan yang lebih
Namun kita saling mengerti keinginan itu

Aku tak butuh kepastian, karena aku aku tau
Kita saling cinta, saling suka dan saling support
Dan intinya kita nyaman menjalani seperti ini

Nada itu tak seirama lagi


" Nada itu tak seirama lagi "

Semua terdiam dalam hening..
Mematung tanpa suara.
Dan hanya terpaku dalam diam yang panjang.
Saat nada tak seirama lagi.
Maka keindahan suara tak lagi bisa didengar merdu.

Semua kata indah seolah sirna seketika...
Tak ada lagi saling menatap.
Sebab senyum itu sudah tak lagi menghiasi bibir.
Raut wajah kekecewaan terpancar dengan jelasnya.
Karna semua rasa sudahlah saling membeku.

Semua terdiam dalam sunyi tanpa suara...
Helaan nafas berat terlihat dari kedua sisi.
Menangis....
Tidaklah akan mengembalikan semua nada agar seirama kembali.
Sebab tangisan hanya akan membuat kita semakin terpuruk dan tenggelam dalam duka.

Jika nada sudahlah tak seirama lagi...
Maka lebih baik diamlah sejenak.
Bersihkan hati...
Dan buanglah segala pikiran yang tak baik tentangnya.
Lalu katakan pada hati kecil mu..
Bahwa dia pernah seirama dalam nada dan rasa.
Dan dia pun pernah menjadi syair disetiap rasa yang ada.

Lalu...
Penjamkanlah kedua matamu...
Dan bayangkanlah saat nada - nada itu pernah seirama dengan mu.
Meski semuanya tidaklah akan seirama dan senada lagi.
Namun paling tidak ada kenangan indah saat masih senada dan seirama denganya.

Goresan ku...
Hanyalah goresan biasa

Jangan lupa Like and Share ke teman kamu

Seperti Pungguk Yang Merindukan Bulan


Ku sederhanakan kebahagiaanku,,!!
dengan hanya terus,Menyayangimu,,,,
Dan ,Aku..,akan membiarkan semesta dengan maunya,,
Entah..,itu akan mendekatkan mu padaku,,atau malah,,membuatmu enyah,,!!
karena ,,kusadari..
Dirimu..,,terlalu indah,,,
yang mampu,,hanya ku Bayang,,
Namun ,,..tidak untuk Menggenggam !!

Source : _May_Be_

Aku Kangen


Aku Kangen

Setiap malam tidurku yang panjang
Dirimu menjelma sebagai akar dari saraf
Menjamah seluruh isi kepalaku
Merasuk kedalam pikiran yang kelabu

Setiap pagi bangunku yang singkat
Dirimu menjelma sebagai kicauan burung
Menyapa manis dibawah rindang pohon
Yang memaki sanubari akan kamu

Tak kah kau rasakan bahwa aku kangen
Melihat paras wajahmu juga raut senyummu
Karena raga dan hati saling terpisah
Dan aku tak bisa memusnahkan jarak yang berkuasa

Kamu merasakan apa yg kurasa atau tidak
Entahlah aku tak tahu


Sumber : My Ss

Menghapus jejak - jejak rindu

Ku coba...
Tuk menyingkirkan semua rasa yang ada.
Dan mencoba untuk tidak berharap banyak dari rasa yang singgah dihati ini.

Aku...
Tak mau terluka lagi.
Dan aku tak mau lagi hati ini merasakan perih yang dalam.
Aku....
Hanya ingin sebuah kedamaian meski dalam kesendirian diri dan hati.

Kuhapus...
Jejak - jejak rindu yang pernah ada.
Kututup rapat - rapat hati ini.
Tak akan kubiarkan sebuah cinta semu hadir kembali mengisi ruang hati ku.

Kan kubiarkan...
Hati ku kosong.
Kan kubiarkan hati ku sepi kembali.

Dan hanya...
Syiar - syair ku yang akan terus mengalir.
Tuk mewakili lisan ku yang diam.

Biarkan...
Hanya jari - jemari ku..
Yang terus menari dalam diam ku.


Goresan kecil ku..
Diantara hati yang mulai membeku kembali

Penantian


Jarak yang tak terpecahkan
Melungsuri sepi yang tiada akhir
Bagai musafir mencari arah
Hilang dalam terpurukkan rasa
Sendiri mengeja arti sebuah cinta

Tak seindah perjalananya
Tetap kuinjak jua
Walau kadang dalam gulita
Meraba pada pundak sosok jiwa

Lelah ku tak berbalaskan
Kerinduan...
Harapan...

Aku masih di sini bertahun
Bahkan berkurun kerinduan
Telah menikam mati kesepian
Ku selalu tanpa mu puan

Cinta selalu ku nantikan
Rindu membayangkan puan
Hampa selalu ku dapatkan
Jarak yang tak terpecahkan.


By; Shi Fu

Baca Juga Artikel Lainya