PASANG IKLAN

Tampilkan postingan dengan label Puisi Cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi Cinta. Tampilkan semua postingan

Aku Semakin Bertanya - Tanya


Aku barangkali hanyalah sehelai daun di antara rimbunnya hidup yang kau punya.
Kau punya ranting dan dahan, serta batang yang kuat.

Sementara aku semakin hari semakin menguning.
Pelan-pelan mulai di goyah oleh angin.
Kau bisa dengan mudah melepas ku.

Namun, jatuh dan berterbangan tanpa arah bukanlah hal yang menyenangkan.
Aku melayang-layang tanpa tujuan.
Jatuh ke tanah.
Lalu di paksa menyerah.
Di paksa ikhlas akan hal-hal yang tak ingin ku lepas.

Aku ingin bertanya.
Pada bagian ini apakah yang menyenangkan dari jatuh cinta?

Boy Candra

KAU MENCINTAINYA DENGAN MUBAZIR


Kau mencintainya dengan mubazir
mengulur-ulur waktu untuk bahagia
bertahan bertahun-tahun dalam luka
perasaan setangguh apa yang kau punya?

Kau mencintainya dengan mubazir
menunda-nunda melanjutkan hidup
bertahan terus dalam rasa kalut
hati siapa yang sedang kau jaga?

Kau mencintainya dengan mubazir
enggan berdamai dengan diri sendiri
memaksakan diri memiliki hingga nanti
padahal jelas sudah dia tak lagi bergairah

mau sampai mengurung diri dalam semu
menanam begitu banyak sepi di dadamu
kau tahu yang kau pertahankan itu tak ada
kau hanya sedang menabur derai hujan luka

Kau mencintainya dengan mubazir
sepanjang tahun tak berganti rasa
sebanyak langkah yang kau dapatkan duka
namun kau betah tenggelam berlama-lama

source : Boy candra

Apakah Kita Akan Bertemu


Aku masih belum tidur meskipun tubuhku lelah dihabisi gerakan Yoga malam tadi. Dan, aku masih di depan laptopku, mendengarkan suara air conditioner yang makin lama membuat kamarku makin sunyi. Hidupku semakin sunyi, apalagi semenjak kamu pergi.

Mataku masih menatap layar laptop sambil terus memperhatikan barisan abjad yang harus aku koreksi ulang. Buku kedelapanku, Sama Dengan Cinta, segera terbit, buku yang aku ceritakan padamu, yang dengan bangga kausambut dengan tepuk tangan riuh. Mas, betapa aku rindu candaanmu, betapa aku rindu hangatnya perhatianmu, dan betapa aku kedinginan menantimu pulang meskipun hujan yang turun tidak akan membuatmu segera pulang ke rumahmu-- ke rumah kita.

Aku sedang membaca bagian "Pemuja Rahasia" di buku kedelapanku. Seketika, aku sedang memposisikan diriku yang memujamu dari ujung kepala sampai ujung kaki. Kamulah gambaran pria sempurna yang aku impikan. Manis, humoris, kulit eksotis, memesona, pandai, gondrong, mendhok, sangat Jawa sekali. Singkatnya, aku tidak bisa menolak untuk tidak mencintaimu. Kamulah jawaban dari semua doaku. Aku mengira kamulah yang akan tetap tinggal, hingga setiap doaku selalu terselip namamu, hingga setiap jantungku mendenyutkan namamu. Namun, nyatanya? Kamu pergi begitu saja, menganggapku sama seperti perempuan lainnya, memposisikan aku sebagai pemuja, bukan pencinta. Padahal, kalau boleh sedikit berbisik di telingamu, aku ingin mengatakan bahwa aku bukan sekadar fansmu, aku penggemarmu nomor satu, yang dengan senang hati; akan berjanji membahagiakanmu-- jika suatu hari kamu milikku nanti.

Kepergianmu yang tiba-tiba adalah kiamat kecil bagiku.
Tahukah kamu rasanya menjadi seorang yang setiap hari menatap ponselnya hanya untuk menunggu chat-mu?

Tahukah kamu rasanya jadi seseorang yang diam-diam memperhatikan seluruh sosial mediamu hanya untuk mengobati perih dan sakitnya rindu?

Tahukah kamu betapa menderitanya jadi seorang yang hanya bisa berprasangka, hanya bisa mengira, hanya bisa menerka bagaimana perasaanmu padaku selama ini?

Tahukah kamu begitu tersiksanya hidup menjadi orang yang selalu bertanya-tanya, ke sana ke mari, mencarimu ke mana-mana, sementara kamu melenggang seenaknya seakan tidak terjadi apa-apa di antara kita?

Tahukah kamu perihnya menahan diri untuk tidak menghubungimu lebih dahulu karena aku begitu tahu diri bahwa kita tidak pernah ada dalam status dan kejelasan?

Tahukah kamu lelahnya menjadi orang yang terus berharap, terus berkata dalam hati, begitu percaya bahwa suatu hari kamu akan kembali?

"Dia pasti chat aku, kok. Satu hari lagi. Dua hari lagi. Satu minggu lagi. Dua minggu lagi.
Tiga minggu lagi. Satu bulan." Dan, aku masih menghitung hari, menunggu kamu pulang, menunggu ingatanmu kembali padaku. Tahukah kamu betapa tersiksanya aku ketika kamu tidak memberi kabarmu, ketika kamu tidak menyapaku, ketika tak ada lagi percakapan di antara kita, dan ketika kamu tiba-tiba menghempaskanku ke dasar daratan, ketika kita sedang asik-asiknya terbang bersama? Katakan padaku, bahwa aku terlalu berlebihan, aku terlalu berdrama, aku terlalu membawa perasaan. Aku tidak peduli apa kata orang, mereka tidak pernah paham betapa dalamnya perasaanku, seperti kamu yang tidak pernah mengerti betapa aku mencintaimu.

Aku merindukan caramu memperlakukanku seperti perempuan Sunda, memanggilku dengan panggilan "Teteh", padahal kamu jelas tahu-- rumah simbahku dan rumah ayahku yang ada di Prawirotaman, Jogja itu. Aku rindu semua pertanyaan yang kamu lontarkan padaku di tengah-tengah kesibukanmu. Aku rindu caramu membalas pesanku dengan tergesa-gesa, lalu meninggalkanku lagi untuk beberapa jam, lalu menyapaku setelah pekerjaanmu selesai. Betapa aku rindu menit-menit singkat yang aku lewati, meskipun aku harus melewati belasan jam dalam sehari, hanya untuk enam puluh menit berharga bersamamu.

Mungkin, kamu selalu bertanya, mengapa aku bisa dengan mudah jatuh cinta padamu? Kalau aku bercerita panjang lebar, tentu ceritaku akan jadi buku kesembilanku. Dengarlah, duduklah di hadapanku, dan tatap mataku dalam-dalam. Aku sudah memperhatikanmu, bertahun-tahun, bahkan sebelum kita saling mengenal, bahkan sebelum insiden kamu salah mengirim chat, bahkan sebelum kita begitu dekat. Aku sudah menjadi pemuja rahasiamu, bahkan sebelum kita saling menyapa. Aku sudah mencintaimu jauh-jauh hari, meskipun aku tidak pernah tahu siapa dirimu, bagaimana keseharianmu, siapa saja kekasihmu, siapa saja gebetanmu. Bagiku, semua itu tak penting. Aku mencintaimu. Mencintaimu. Mencintaimu. Dan, akan terus begitu. Meskipun kamu, sekali lagi, tidak akan pernah tahu.

Aku masih menanti, suatu hari kamu akan memperlakukanku sehangat kemarin. Dan kita tertawa, bercanda, memeluk awan, meraih bintang, menari bahagia di permukaan Saturnus. Aku masih menunggu, hari-hari saat kamu kembali. Dan aku bisa rasakan hangatnya pelukmu yang dulu pernah menjadi mimpi kecilku, bisa aku rasakan desah napasmu ketika kamu berbisik di telingaku, bisa aku rasakan denyut jantungmu ketika peluk kita begitu erat hingga sulit dilepaskan, bisa aku dengar suara mendhok-mu yang menyanyikan lagu JKT48, bisa aku rasakan rapatnya jemarimu ketika memegang jemariku, dan aku bersumpah demi apapun tidak akan melepaskanmu.

Aku masih menanti, pertemuan kita yang segera terjadi. Beberapa hari lagi, aku akan ke kotamu, ke kota kita, Jogjakarta. Aku dan penerbitku menyapa para sahabat pembaca di Jogjakarta, Solo, dan Semarang; dalam acara Meet And Greet bersama Dwitasari. Sungguh, aku tidak berharap lebih. Seandainya bisa bertemu denganmu, aku hanya ingin menatap sinar matamu, mata yang entah mengapa selalu membuatku percaya, masih ada cinta di sana.

Sungguh, aku tidak berharap lebih. Keinginanku sederhana. Kita duduk berdua saja, di Alun-alun Selatan Jogjakarta. Tidak ada percakapan yang terjadi, hanya hati kita yang saling menghampiri. Kamu menggenggam jemariku, aku menggenggam jemarimu. Kita menghela napas sesaat, masih tak percaya bahwa pada akhirnya kita sampai di titik ini. Dulu, aku hanya bisa menatap chat-mu, namun pada akhirnya aku bisa benar-benar menatapmu. Lalu, kamu memandangiku, aku memandangimu. Kamu mendekat. Semakin dekat. Bisa aku rasakan aroma tubuhmu. Bisa aku rasakan rambut gondrongmu menyentuh wajahku. Kita.....

Beranikah? Aku menantangmu.

yang memuja kepolosanmu.

Tentang Pesan Untuk Laki Laki


Tentang PESAN  UNTUK LAKI LAKI

Perempuan bukan cuma di tiduri
Perempuan bukan bahan perkosaan
Perempuan bukan buda Nafsu

TAPI,,,.......

Perempuan untuk dihargai
Perempuan untuk di hormati
Perempuan untuk disetarakan
Perempuan untuk disejajarkan.....

KARENA...!!

Dari Rahim perempuan lah kita lahir....
Dari Asi perempuan Otak kita berkembang ....
Tak ada perempuan
kita tak bisa berkembang biak......

Karya : Inda NS

Kita takut saling kehilangan meskipun tak ada ikatan yang lebih

janjimu palsu

Begini saja
Tak saling mengungkapkan
Saling mengerti satu sama lain
Saling bertukar kabar

Mungkin diantara kita berdua
Memang sudah tau
Kita memiliki rasa
Kita takut saling kehilangan meskipun tak ada ikatan yang lebih
Namun kita saling mengerti keinginan itu

Aku tak butuh kepastian, karena aku aku tau
Kita saling cinta, saling suka dan saling support
Dan intinya kita nyaman menjalani seperti ini

Keep Your Heart


keep your heart
so as not to be damaged.
because a broken heart will be difficult to accept reality.

khadim al-qur'an
is the most noble revelation.
which descends directly into the clean heart.

whatever form of advice
when it brings goodness
there's nothing wrong with us paying a little attention,
so as not to get lost into the brink of destruction

PINTU HATI TAK SEPERTI BENDUNGAN


Pintu hati tak seperti bendungan,
Yang kapan pun aman di buka tutup tidak merembas.
Dalam urusan perasaan, sekali pintu hati di biarkan terbuka
Maka akan susah untuk menutupnya kembali.
Tetap merembes bahkan lubang bocornya bertambah dan jebol di mana mana.
Membahayakan seluruh bendungan

Maka jika kita belum siap
Belum niat serius
Maka jangan suka membuka pintu hati
Dan tentu saja jangan mau di gombalin
Oleh orang yang terbiasa membuka pintu hatinya untuk yang lain
Pintu bendungan dunia nyata saja hanya dalam kondisi tetentu di buka tutupnya.

Sama halnya Saat kita tertawa,
hanya kitalah yang tahu persis apakah tawa itu bahagia atau tidak.
Boleh jadi kita sedang tertawa dalam seluruh kesedihan atau penuh kepura puraan
Orang lain hanya melihat wajah.
Tak bisa melihat hati

Nada itu tak seirama lagi


" Nada itu tak seirama lagi "

Semua terdiam dalam hening..
Mematung tanpa suara.
Dan hanya terpaku dalam diam yang panjang.
Saat nada tak seirama lagi.
Maka keindahan suara tak lagi bisa didengar merdu.

Semua kata indah seolah sirna seketika...
Tak ada lagi saling menatap.
Sebab senyum itu sudah tak lagi menghiasi bibir.
Raut wajah kekecewaan terpancar dengan jelasnya.
Karna semua rasa sudahlah saling membeku.

Semua terdiam dalam sunyi tanpa suara...
Helaan nafas berat terlihat dari kedua sisi.
Menangis....
Tidaklah akan mengembalikan semua nada agar seirama kembali.
Sebab tangisan hanya akan membuat kita semakin terpuruk dan tenggelam dalam duka.

Jika nada sudahlah tak seirama lagi...
Maka lebih baik diamlah sejenak.
Bersihkan hati...
Dan buanglah segala pikiran yang tak baik tentangnya.
Lalu katakan pada hati kecil mu..
Bahwa dia pernah seirama dalam nada dan rasa.
Dan dia pun pernah menjadi syair disetiap rasa yang ada.

Lalu...
Penjamkanlah kedua matamu...
Dan bayangkanlah saat nada - nada itu pernah seirama dengan mu.
Meski semuanya tidaklah akan seirama dan senada lagi.
Namun paling tidak ada kenangan indah saat masih senada dan seirama denganya.

Goresan ku...
Hanyalah goresan biasa

Jangan lupa Like and Share ke teman kamu

Seperti Pungguk Yang Merindukan Bulan


Ku sederhanakan kebahagiaanku,,!!
dengan hanya terus,Menyayangimu,,,,
Dan ,Aku..,akan membiarkan semesta dengan maunya,,
Entah..,itu akan mendekatkan mu padaku,,atau malah,,membuatmu enyah,,!!
karena ,,kusadari..
Dirimu..,,terlalu indah,,,
yang mampu,,hanya ku Bayang,,
Namun ,,..tidak untuk Menggenggam !!

Source : _May_Be_

Aku Kangen


Aku Kangen

Setiap malam tidurku yang panjang
Dirimu menjelma sebagai akar dari saraf
Menjamah seluruh isi kepalaku
Merasuk kedalam pikiran yang kelabu

Setiap pagi bangunku yang singkat
Dirimu menjelma sebagai kicauan burung
Menyapa manis dibawah rindang pohon
Yang memaki sanubari akan kamu

Tak kah kau rasakan bahwa aku kangen
Melihat paras wajahmu juga raut senyummu
Karena raga dan hati saling terpisah
Dan aku tak bisa memusnahkan jarak yang berkuasa

Kamu merasakan apa yg kurasa atau tidak
Entahlah aku tak tahu


Sumber : My Ss

Baca Juga Artikel Lainya